Alasan Bangkrutnya Klub Malam di Zaman Orde Baru

Alasan Bangkrutnya Klub Malam
Alasan Bangkrutnya Klub Malam di Zaman Orde Baru

Alasan Bangkrutnya Klub Malam – Genderang klub malam (night club) sudah mulai menipis baik di Indonesia, khususnya Jakarta dan di dunia. Satu pertsatu mulai tutup, dan sinyalir mengalami kebangkrutan atau berganti konsep.

Klub malam memang pernah menjadi primadona di genari dewasa 90-an. Pada masa itu, orang yang belum masuk ke klub malam, belum keren. Mereka akan terhentak dengan musik yang ramu Disc Jokey (DJ) semalam suntuk dengan ditemani wanita dan lakohol.

Inilah Alasan Bangkrutnya Klub Malam

Seiring jalannya waktu, saat memasuki era 2000-an, gaya hidup pergi ke klub malam cenderung berubah. Generasi baru yang dewasa di era 2000-an, tidak lagi menjadikan hiburan malam (klub) sebagai patokan untuk bergaul. Sehingga hal ini yang memicu awal tutupnya beberapa klub malam baik di Indonesia maupun di dunia.

Di Amerika saja, lebih dari 10.000 bar tutup dalam satu dekade terakhir. Dalam catatan,pada tahun 2014, per hari bisa dibilang 6 bar ditutup. Nightlife Association AS memaparkan sekitar 6.500 klub malam mengurangi jam operasinya. Majalah Forbes melaporkan, di Eropa, konisinya tidak berbeda. Jumlah klub malam di Inggris menurun 45 persen. Di Belanda, antara 2001 hingga 2011, tuturn sampai 38 persen.

Generasi milenial yang tidak tertarik menjadi salah satu “penyebab” dari menurunnya atau tutupnya klub malam. Genarasi ini lebih memilih untuk menghabskan waktu di rumah atau di tempat tongkrongan lain. Monitoring the Future melaporkan, konsumsi alkohol remaja mencapai tinggat terendah sejak survei yang dilakukan pada 1975.

Para generasi yang juga disebut Generasi Y ini, lebih memilih tempat yang memiliki wahana saat ingin mengonsumsi alkohol. Selain itu, mereka dilaporkan lebih memilih hobi daripada pergi ke klub malam. Pergi ke coffee shop bersama teman-teman menjadi salah satu tempat yang kini digandrungi.

Penelitian Brie yang dilaporkan The Guardian, menyurvei 196 responden dengan rentang usia 18 hingga 35 tahun, memilih menghabiskan waktu di rumah daripada di klub malam. 70 responden menyatakan tidak tertarik masuk klub malam, hanya 45 yang masih tertarik.

Selain lebih banyak di rumah, ternyata media sosial juga menjadi peran penting dibalik tutupnya klub malam. Karena, 98 orang menyatakan kurang tertarik bertatap muka dengan kenalan baru karena sudah ada media sosial, dan hanya 33 orang yang menyatakan tertarik untuk bertatap muka.

Hal ini nampaknya juga berimbas pada generasi di Indonesia. Mereka yang tumbuh di lingkungan teknologi, lebih berinteraksi di media sosial, dan lebih memilih menghabiskan uang demi pengalaman selain materi, misalnya traveling.

Kalaupun ingin hangout, mereka lebih cenderung memilih pengalaman yang shareable, yang bisa dibagikan di media sosial daripada pergi ke bar setiap akhir pekan. Artinya, bisa jadi mereka menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat yang unik yang pantas dibagi di Instagram, Facebook, seperti restoran enak atau menonton pertunjukan spektakuler.

Seperti di singgung di atas, memasuki era 2000-an, klub malam mulai ditinggalkan, begitu juga di Indonesia yang berada di Jakarta. Klub malam yang hit dan keren ini terpaksa tutup karena tak bisa membendung peralihan gaya hidup milenial. Berikut Alasan Bangkrutnya Klub Malam di Jakarta yang tutup di tahun 2000-an.

  • Embassy

Berada di area Taman Ria Senayan, klub yang berdiri sejak tahun 2001 dan mengalami beberapa kali renovasi ini terpaksa ditutup di awal tahun 2009. Di kawasan ini pula sempat berdiri klub semi resto seperti Manna House yang bergonta-ganti nama menjadi Lava Lounge hingga kemudian Public.

  • Centro

Kawasan perbelanjaan Dharmawangsa Square menjadi sangat berbeda memasuki malam hari berkat kehadiran klub ini. Dimeriahkan oleh fashion dance hingga fashion show yang memanjakan mata pengunjungnya. Tempat ini juga memiliki klub lainnya yang bernama Wonderbar.

  • Retro

Klub malam ini dulu sempat jadi tempat hangout para top model ibukota hingga para seleb. Bertempat di Hotel Crown Plaza, Gatot Subroto, jakarta, kini ia berganti nama menjadi Kama Sutra.

  • Mata Bar

Terletak di Wisma Metropolitan, Jl. Jendral Sudirman, klub ini sempat hits karena berada di dalam gedung bertingkat yang mewah dan prestisius.

  • BC Bar

Awalnya berdiri di samping Sarinah Thamrin dan kemudian pindah di area belakang Hotel Nikko Jakarta. Klub ini menyajikan konsep interior yang unik dengan jenis sofa-sofa besar dan penuh privasi.

  • Bengkel

Klub malam berukuran super besar dan luas ini seringkali membuat orang tersesat di dalmnya. Seringkali difungsikan sebagai lokasi konser bagi beberapa artis internasional membuat namanya semakin melegenda di benak para clubbers.

  • Fashion Cafe

Kafe yang juga klub malam ini sempat heboh saat pertama kali dibuka. Dengan para supermodel dunia yang khusus diterbangkan ke Jakarta, klub yang berada di Wisma BNI ini menjadi tolok ukur event fashion bergengsi di Jakarta beserta para tamu yang fashionable.

  • Budha bar

Memiliki nama yang sangat sensitif dengan unsur keagamaan, klub yang berdiri di kawasan Menteng ini terpaksa ditutup oleh pihak yang berwenang. Kini klub tersebut berubah menjadi Galeri seni Kunstkring setelah sebelumnya juga sempat ganti konsep menjadi resto mewah, Bistro Boulevard.

  • Tanamur

Tempat disko yang berasal dari singkatan kata Tanah Abang Timur ini terkenal di awal tahun ’90an. Banyak sosialita di era tersebut pergi ke tempat ini untuk bersenang-senang dan berdansa meskipun lokasinya tidak terlalu prestisius.

  • Lipstik

Bisa dibilang klub yang berada di area Blok M ini adalah klub pertama untuk berdansa dan buka hingga dini hari. Awalnya populer karena arena bersepatu roda di tahun ’80an, dan berkembang dari tahun ke tahun menjadi klub disko kawula muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *