Robert Mugabe, Sosok Pahlawan Kemerdekaan yang Menjadi Diktator

Robert Mugabe
Robert Mugabe, Sosok Pahlawan Kemerdekaan yang Menjadi Diktator

Robert Mugabe – Di usia 95 tahun, Presiden Zimbabwe ke-2, Robert Mugabe dinyatakan meninggal dunia pada hari ini. Ia diyakini berada di Singapura, sebab pemberitaan terakhir menyebut bahwa dirinya menjalani perawatan di Negeri Singa itu sejak April 2018.

Robert Mugabe yang lahir 21 Februari 1924 telah menjadi pemimpin Zimbabwe sejak kemerdekaan negara itu pada 1980 hingga ia dikudeta tanggal 15 November 2017.

Sebelum dikudeta, Mugabe merupakan salah satu pemimpin negara Afrika yang paling lama berkuasa dan yang paling terkenal di dunia. Demikian seperti dikutip dari History.com, Jumat (6/9/2019).

Mugabe sempat menghabiskan 11 tahun sebagai tahanan politik di bawah pemerintahan Ian Smith di Rhodesia (nama Zimbabwe pra-kemerdekaan, saat masih dijajah oleh Inggris).

Usai menjadi tapol, Mugabe bangkit untuk memimpin gerakan Zimbabwe African National Union.

Pria itu juga menjadi salah satu negosiator kunci dalam Lancaster House Agreement 1979 yang mengarah pada kemerdekaan Republik Zimbabwe. Setelah kemerdekaan itu, Mugabe terpilih sebagai Perdana Menteri dan kemudian menjadi Presiden Zimbabwe.

Selama memimpin, Mugabe dikenal mampu melakukan rekonsiliasi dengan kelompok kulit putih minoritas di Zimbabwe. Namun, ia juga kerap diketahui sebagai orang yang intens menyikut lawan-lawan politiknya.

Memasuki tahun 2000, Robert Mugabe mendorong pengambilalihan peternakan komersial milik kelompok kulit putih, menyebabkan keruntuhan ekonomi dan inflasi. Dan sejak itu kepercayaan rakyat Zimbabwe memudar terhadapnya.

Robert Gabriel Mugabe Menjadi Aktivis Politik

Robert Gabriel Mugabe lahir di Katuma, sebuah komunitas Kristen Yesuit yang berjarak sekitar 80 km dari Salisbury, Ibu Kota Koloni Inggris di Rhodesia Selatan. Ayahnya, Gabriel Matibili, adalah seorang tukang kayu dari Nyasaland (Malawi). Ibunya, Bona, termasuk dalam kelompok etnis Shona yang terkemuka.

Mugabe lulus dari Katrina St. Francis Xavier College pada 1945. Selama 15 tahun berikutnya, ia mengajar di Rhodesia (negara penerus Koloni Inggris di Rhodesia Selatan) dan Ghana, kemudian menempuh pendidikan lanjutan di Fort Hare University di Afrika Selatan. Di Ghana ia bertemu dan menikahi istri pertamanya, Sally Hayfron.

Pada 1960 Mugabe bergabung dengan partai pro-kemerdekaan Rhodesia, National Democratic Party dan menjadi sekretaris publisitasnya. Pada 1961, NDP mendapat status terlarang dari pemerintah Rhodesia.

Oleh karena itu, partai NDP kemudian direformasi menjadi Zimbabwe African Peoples Union (ZAPU) dan berkembang menjadi salah satu parpol besar di Rhodesia. Dua tahun kemudian, Mugabe meninggalkan ZAPU untuk Zimbabwe African National Union (ZANU, kemudian ZANU-PF), partai politik yang menaunginya.

Sempat Menjadi Tahanan Politik

Pada 1964, ZANU mendapat status terlarang dari pemerintah Kolonial Inggris di Rhodesia Selatan. Dampaknya, Mugabe ditangkap dan dipenjara menjadi tahanan politik.

Setahun kemudian, Perdana Menteri Rhodesia, Ian Smith mengeluarkan Unilateral Declaration of Independence untuk menciptakan negara Rhodesia yang dikuasai etnis kulit putih, membatalkan rencana perumusan Inggris untuk menetapkan aturan mayoritas di sana serta memicu kecaman internasional.

Di penjara, Mugabe mengajar Bahasa Inggris untuk rekan-rekan tahanannya dan mendapatkan gelar sarjana dengan korespondensi dari University of London.

Ia kemudian ibebaskan pada 1974 dan segera pergi ke pengasingan di Zambia dan Mozambik.

Pada 1977 ia mendapatkan kendali penuh atas front politik dan paramiliter ZANU, secara efektif menjadikan Mugabe pemimpin partai tersebut.

Setelah itu, Mugabe lantas mengadopsi ideologi Marxisme-Maoisme. Pengadopsian Ideologi itu membuat Mugabe dan ZANU menerima pasokan senjata dan pelatihan dari Asia serta Eropa Timur, juga tetap menjalin hubungan baik dengan para donor dari Barat.

Mugabe Membentuk Zimbabwe

Kesepakatan pada 1978 yang dibangun antara Perdana Menteri Rhodesia, Ian Smith dan pemimpin kulit hitam moderat pro-Smith, membuka jalan bagi terpilihnya Uskup Abel Muzorewa sebagai perdana menteri negara boneka Rhodesia yang bernama Rhodesia- Zimbabwe.

Namun, negara boneka itu tidak mendapat pengakuan internasional karena ZANU dan ZAPU tidak berpartisipasi dalam pemilihan tersebut.

Pada 1979, Perjanjian Lancaster House yang ditengahi Inggris membawa partai besar di kawasan untuk menyetujui peraturan mayoritas sambil melindungi hak asasi dan properti kelompok minoritas kulit putih. Perjanjian itu berujung pada terbentuknya negara Zimbabwe modern .

Pada 4 Maret 1980, Mugabe berhasil memenangkan pemilihan presiden Zimbabwe. Salah satu misi utamanya adalah untuk meyakinkan 200.000 orang kulit putih di Zimbabwe — termasuk 4.500 petani komersial — terjamin kehidupannya.

Tahun 1982, Mugabe mengirim paramiliter ZANU, Fifth Brigade — yang dilatih oleh Korea Utara — ke markas ZAPU di Matabeleland untuk mengerdilkan partai politik tersebut. Lima tahun berikutnya, Mugabe juga diduga sebagai dalang di balik pembunuhan 20.000 warga sipil Ndebele. Seluruh rangkaian kekerasan itu dianggap sebagai langkah Mugabe untuk melakukan genosida politik.

Pada 1987 Mugabe justru beralih taktik, yakni dengan merangkul ZAPU dan menyerap ZANU-PF yang berkuasa. Langkah itu menciptakan negara otoriter satu partai secara de facto dengan Mugabe sebagai presiden yang berkuasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *